Datang dan Terimalah

07
May

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! —Yesaya 55:3

Datang dan Terimalah

Saya mengintip melalui pagar tanaman anggur yang mengelilingi halaman belakang rumah kami. Dari sana saya bisa melihat orang-orang yang sedang berlari, jogging, berjalan kaki, dan berjalan cepat mengitari jalur yang mengelilingi taman di belakang rumah kami. Saya pernah melakukan itu semua ketika saya masih kuat, pikir saya. Seketika itu juga gelombang ketidakpuasan melanda saya.

Belakangan, ketika sedang membaca Alkitab, saya dibuat terhenyak oleh Yesaya 55:1, “Ayo, hai semua orang yang haus,” dan menyadari lagi bahwa ketidakpuasan (kehausan) dalam hidup ini merupakan keniscayaan, bukan pengecualian. Tidak ada, bahkan hal-hal baik dalam hidup sekalipun, yang dapat sepenuhnya memuaskan kita. Andai kata saya memiliki kaki yang kuat untuk mendaki gunung, pasti tetap saja ada sesuatu dalam hidup saya yang akan membuat saya merasa tidak puas.

Budaya kita selalu mengatakan kepada kita melalui berbagai cara bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh melalui apa yang kita lakukan, yang kita beli, pakai, miliki, atau naiki. Semua itu tidak benar. Kita tidak akan bisa memperoleh kepuasan penuh dari apa pun di dunia ini, tak peduli apa yang kita lakukan.

Nabi Yesaya mengajak kita untuk datang dan datang lagi kepada Allah dan Kitab Suci untuk mendengarkan apa yang Allah katakan. Jadi, apa yang Allah katakan? Kasih-Nya kepada Daud di masa silam adalah “abadi” dan “teguh” (ay.3). Kasih itu berlaku juga untuk Anda dan saya! Kita boleh “datang” kepada-Nya. —David H. Roper

WAWASAN

Yesaya 55 merupakan satu rangkaian dengan dua pasal sebelumnya. Pasal 53 menubuatkan penderitaan sang Mesias yang akan datang dan menunjuk pada keturunan yang akan lahir karenanya. Melalui penderitaan ini, Mesias akan “menanggung dosa banyak orang” (ay.12)—dengan kata lain, menyelamatkan kita. Pasal 54 menggambarkan bahwa Mesias ini kelak akan memulihkan bangsa Israel sepenuhnya. Dalam pasal 55 ini, nabi Yesaya menunjukkan bahwa Allah menawarkan keselamatan tersebut kepada kita semua: “Ayo, hai semua orang yang haus” (ay.1). Ia mengundang kita untuk menerima sesuatu yang sangat dibutuhkan dan kita tak sanggup menggapainya dengan usaha sendiri. Kontras dengan roti “yang tidak mengenyangkan” (ay.2), Yesus berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35). Melalui Kristus sang Air Hidup (4:1-15), kita meredakan dahaga rohani yang mendalam. Kelegaan ini tak bisa diperoleh dengan uang maupun upaya kita sendiri. —Tim Gustafson

Dalam hal apakah Anda merasa haus? Bagaimana kesadaran bahwa Allah itu setia akan menolong Anda hari ini?

Siapakah yang kami miliki, Tuhan, selain Engkau yang puaskan dahaga jiwa? Mata air yang tiada habis-habisnya mengalir! Air anugerah yang cuma-cuma! Mata air lain tak bisa diharapkan. —Mary Bowley