Prediksi yang Salah

18
Apr

Pada tengah hari tanggal 21 September 1938, seorang ahli meteorologi muda memperingatkan Badan Meteorologi AS tentang badai topan yang mengarah ke utara menuju wilayah New England. Namun, kepala lembaga itu mencemooh prediksi Charles Pierce. Baginya tidak mungkin badai tropis akan bergerak hingga sejauh itu ke arah utara.

Namun, dua jam kemudian, badai topan dahsyat pun datang menyapu area Long Island. Pada pukul empat sore, badai tersebut telah sampai di New England dan menghempaskan banyak kapal ke darat serta meruntuhkan bangunan-bangunan ke laut. Korban tewas mencapai lebih dari 600 orang. Seandainya para korban menerima peringatan Pierce—yang dibuat berdasarkan data yang akurat dan peta yang terperinci—mungkin mereka akan selamat.

Kitab Suci menasihati kita untuk mengetahui perkataan siapa yang memang patut didengar. Pada zaman Nabi Yeremia, Allah memperingatkan umat-Nya untuk mewaspadai nabi-nabi palsu. “Jangan dengarkan perkataan para nabi yang selalu hanya memberi harapan yang kosong. Mereka hanya menyampaikan khayalan mereka sendiri dan bukan pesan-Ku” (Yer. 23:16 bis). Allah berkata tentang mereka, “Andaikata mereka tahu apa yang terkandung dalam pikiran-Ku, tentulah mereka telah menyampaikan kepada umat-Ku segala yang telah Kuucapkan” (ay.22 bis).

“Nabi-nabi palsu” masih ada. Mereka memberikan nasihat tetapi mengabaikan Allah sama sekali atau memutarbalikkan kata-kata-Nya demi tujuan mereka. Namun, melalui firman dan Roh-Nya, Allah telah memberikan apa yang kita perlukan untuk membedakan yang salah dan yang benar. Ketika kita mengukur segalanya dengan kebenaran firman-Nya, perkatan dan kehidupan kita sendiri akan semakin mencerminkan kebenaran itu kepada orang lain.