Tuhan, Alasanku Bersukacita di Dalam Penderitaan

20
Apr

Sudah lebih dari tiga minggu, tagar #DiRumahAja memenuhi hampir semua unggahan yang melintas di media sosialku. Sudah lebih dari tiga minggu pula aku menjalani perkuliahan secara online. Keadaan yang memaksaku untuk beradaptasi secara tiba-tiba ini—ditambah lagi dengan ketidakpastian akan kapan semua ini akan berakhir—membuatku merenung. Ketika tempat kita berpijak mulai goyah dan membuat kita tidak seimbang, sudah pasti gerakan refleks kita adalah mencari pegangan, bukan? Aku menghela nafas dan segera meraih Alkitabku.

Karena tidak tahu bagian mana yang harus kubuka dalam Alkitab, aku berdoa kepada Tuhan agar Roh Kudus mengarahkanku pada perenungan yang dapat memberiku kekuatan yang kubutuhkan tengah-tengah situasi ini. Aku membuka aplikasi Alkitab favoritku dan mulai menelusuri berbagai pilihan topik renungan yang terpampang.

Mataku tertuju pada topik Hope, harapan. Aku menemukan renungan yang ditulis oleh Craig Groeschel, seorang pendeta senior asal Amerika, yang berjudul Hope In The Dark, harapan di tengah kegelapan. Tanpa berpikir dua kali, aku memilihnya untuk menjadi renunganku untuk beberapa hari ke depan.

Tuhan, di manakah Engkau?

Kurasa, di tengah keadaan yang memukul seluruh dunia seperti saat ini, banyak orang yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Dalam imajinasiku, jika Tuhan bekerja di sebuah ruangan kantor, saat ini Tuhan sedang menutup tirai jendela dan mengunci pintu, lalu memasang tulisan “sedang pergi.” Tidak tahu ke mana dan kapan kembali.

Cepat-cepat kukibaskan ilustrasi aneh itu. Sebab pada kenyataanya, Tuhan berjanji Dia akan selalu beserta dengan kita. Lalu, mengapa Dia seakan-akan tidak melihat semua yang terjadi? Mengapa Dia seolah diam saja?

Lebih dari 2,600 tahun yang lalu, Habakuk mempertanyakan hal yang sama. Dia bertanya-tanya mengapa Allah seakan-akan diam dan tidak berbuat apa-apa dalam menghadapi kejahatan dan penindasan yang dilakukan oleh orang-orang Yehuda. Dia mengutarakan keluhannya kepada Tuhan, “Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?” (Habakuk 1:2).

Menelusuri kitab Habakuk pasal 1:1-4, kita dapat melihat Habakuk dengan jujur dan berani bertanya kepada Tuhan mengapa ada jurang yang begitu lebar antara apa yang dia percayai dengan situasi yang ada di sekelilingnya. Habakuk sangat mengasihi Tuhan, tetapi justru karena kasihnya yang besar inilah dia dengan penuh hormat melontarkan pertanyaan-pertanyaannya tersebut.

Dalam perikop selanjutnya, Tuhan mengatakan bahwa Dia yang telah membangkitkan orang Kasdim tetapi Dia juga akan menghukum orang Kasdim atas kesalahannya. Jawaban Tuhan membuat Habakuk kembali bergumul: mengapa Allah memakai orang Kasdim (bangsa Babel) yang jauh lebih jahat dari bangsa Yehuda untuk menghukum Yehuda?

Di sisi lain dari keraguannya, Habakuk justru bertumbuh menjadi sosok yang lebih kuat dalam iman. Mungkin, imannya tidak bisa bertumbuh semantap itu apabila dia tidak merasakan semua keraguan itu.

Jika kita memahami segala hal secara penuh dan sempurna, bukankah kita tak lagi membutuhkan iman? Aku sangat menyukai Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Jika kita belum melihat apa-apa, dengan kacamata iman kita dapat dengan yakin menyatakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi karena kita mengenal siapa Tuhan kita. Karena kita tahu karakter-Nya dan kebesaran-Nya, kita dapat percaya bahwa Dia selalu memegang kendali atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Dengarkan dan nantikan

Habakuk tidak mencurahkan isi hatinya lalu memalingkan wajahnya dari Tuhan, seperti orang yang sedang ngambek. Justru, usai menanyakan segalanya, Habakuk memposisikan dirinya untuk mendengarkan suara Tuhan. Dia berkata, “Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.” (Habakuk 2:1).

Craig Groeschel menuliskan bahwa terkadang, alasan mengapa kita tak kunjung memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita adalah karena kita kurang bersedia untuk berhenti sejenak dan sabar menunggu sampai Tuhan menyatakan diri-Nya.

Ketika masih duduk di sekolah minggu, kita sering menyanyikan lagu “Baca kitab suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh”. Aku mulai menyadari bahwa untuk mengenal Yesus dua hal wajib yang harus berjalan beriringan dan membutuhkan ketekunan adalah berdoa dan membaca firman-Nya.

Setelah berbicara dan mengungkapkan isi hati dan memanjatkan permohonan syukur kita pada Tuhan, ketika membaca firman kita mendengarkan arahan-Nya. Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Apabila membaca firman hanya menjadi sebuah rutinitas belaka sehingga kita tidak benar-benar menyediakan waktu dan ruang bagi Tuhan untuk memberikan pewahyuan tertentu kepada kita, bisa-bisa kita melewatkan banyak hal yang luar biasa!

Jika kita bersedia meluangkan—bukan hanya menyisakan—waktu untuk mengenal Tuhan dan mendengar suara-Nya, Tuhan pasti akan menghargai usaha kita mencari wajah-Nya. Menunggu memang tidak selalu menyenangkan, tetapi Tuhan berjanji memberikan kekuatan baru bagi kita yang menanti-nantikan Dia (Yesaya 40:31).

“Tetapi Tuhan…”

Ketika kita sudah berdoa berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, tetapi keadaan yang kita doakan tampaknya tidak menampilkan perubahan yang kita harapkan… “apakah kita masih bisa percaya bahwa Tuhan takkan mengingkari janji-Nya? Mungkinkah, ketekunan kita justru membuat kita menjadi sangat dekat dengan Tuhan sehingga kita dapat tetap mengasihi dan melayani-Nya meskipun ada kekecewaan di hati kita?

Pertanyaan-pertanyaan dalam renungan itu cukup membuatku tertohok. Tetapi, menurutku respons Habakuk amatlah menarik. Dua kata pertama yang diucapkan Habakuk dapat menjadi pengingat kita dalam perjalanan iman kita menuju kepercayaan penuh akan kasih dan kuasa-Nya: “Tetapi Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” (Habakuk 2:20).

Keadaan di sekitar kita mungkin terlihat mencekam dan mengerikan, tetapi Tuhan memegang kendali penuh. Kita mungkin merasa sudah melakukan segalanya yang kita bisa untuk masuk ke universitas yang kita impikan dan tak kunjung berhasil, tetapi Tuhan tetap punya rencana yang terbaik. Lutut kita mungkin terasa sakit karena kita terus berdoa tapi seolah tak mendapat jawaban, tetapi Tuhan tetap mendengarkan dan bekerja untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Biarlah keteguhan hati kita akan karakter Tuhan memberi kita penghiburan dan kekuatan untuk melewati setiap badai hidup kita.

Bersukacita karena Tuhan

Aku benar-benar terinspirasi oleh respons nabi Habakuk. Pengalaman bersama Tuhan membuat dia bisa melihat keadaannya dari perspektif Tuhan, dengan penuh iman dan penyerahan penuh pada kehendak Tuhan. Dalam pasal 3, kita dapat melihat Habakuk memuji dan memuliakan Tuhan ketika dia menanti-nantikan Tuhan untuk menggenapi janji-Nya.

“Tuhan, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya Tuhan, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!” (Habakuk 3:2)

Dari Habakuk aku belajar, untuk tidak bersungut-sungut dalam penantian kita. Sebaliknya, kita dapat mengingat perbuatan dan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita dengan penuh sukacita. Kita dapat mengucap syukur akan kebaikan-Nya yang tak berkesudahan, bukan hanya yang sudah-sudah, melainkan juga untuk yang akan datang.

Aku juga melihat bagaimana iman Habakuk tidak tergoyahkan oleh situasi yang ada di sekelilingnya.

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Habakuk 3:17-18).

Luar biasa, sukacita Habakuk karena Tuhan lebih daripada sukacita Habakuk akan berkat dari Tuhan. Aku tersadar, selain karena kebaikan Tuhan yang sudah kita alami sebelumnya, kita dapat bersukacita karena janji Tuhan yang pasti akan Dia penuhi bagi kita. Namun, meskipun keinginan kita tidak diwujudkan sekalipun, bersyukurlah karena kehendak-Nya bagi kita selalu mendatangkan masa depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11).

Alkitab berisi banyak sekali panggilan untuk Tuhan: kota benteng, gunung batu, batu karang, menara yang kuat, dan lain sebagainya. Namun, yang kutahu pasti adalah semua itu menunjukkan betapa kuat dan kokohnya Tuhan kita. Di tengah goncangan yang kita alami, kita tahu pada siapa kita dapat berlindung dan apa yang harus menjadi pedoman kita. Tak lain tak bukan, hanya Yesus dan firman-Nya, yang tak akan pernah tergoncangkan. Tuhan memberkati kita semua.

“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)” (Habakuk 3:19).