Dari Ratapan Kepada Pujian

23
Apr

etapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku.—2 Timotius 4:17

Dalam sebuah kegiatan amal yang membagikan mantel gratis, anak-anak sangat gembira mencari mantel yang ukuran dan warnanya pas dengan selera mereka. Salah seorang panitia menjelaskan bahwa anak-anak itu menjadi lebih percaya diri dengan mantel baru karena merasa lebih diterima oleh teman-teman dan meningkatkan kehadiran di sekolah saat musim dingin.

Rasul Paulus sepertinya juga membutuhkan mantel, ketika ia memerintahkan Timotius, “Bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus” (2Tim. 4:13). Di dalam penjara Romawi yang dingin, Paulus tidak saja membutuhkan kehangatan tetapi juga teman. “Tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku,” ratapnya, ketika ia menghadapi pengadilan Romawi (ay.16). Keterusterangan sang misionaris besar tentang kepedihan hatinya membuat hati kita iba.

Namun, dalam kata-kata penutup dari surat Paulus yang terakhir ini—pemikiran akhir setelah perjalanan pelayanan yang luar biasa—ia beralih dari ratapan kepada pujian. “Tetapi Tuhan telah mendampingi aku,” tambahnya (ay.17), dan perkataannya menguatkan hati kita. Paulus menyatakan, “Tuhan] memberikan kekuatan sehingga saya sanggup memberitakan seluruh Kabar Baik itu, supaya didengar oleh semua orang bukan Yahudi. Dan saya terlepas dari bahaya kematian” (ay.17 BIS).

Jika kamu sedang menghadapi krisis, bagaikan kekurangan baju hangat untuk melawan hawa dingin atau kehilangan teman-teman dekat yang siap membantu, ingatlah kepada Tuhan. Dia setia untuk membangkitkan, memelihara, dan menyelamatkan kita. Untuk apa? Untuk kemuliaan-Nya dan untuk tujuan kita di dalam Kerajaan-Nya. —Patricia Raybon

WAWASAN
Kitab 2 Timotius ditulis dari Roma ketika Paulus sedang menantikan hukuman mati. Kejelasan akan tanda-tanda kematiannya yang semakin dekat terlihat pada 2 Timotius 4:6: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.” Nadanya sangat berbeda dengan surat-suratnya di penjara (Efesus, Filipi, Kolose, Filemon) yang dituliskan saat ia menjadi tahanan rumah menantikan pengadilan (lihat Kis. 28:30-31). Perbedaan ini membuat banyak sarjana menganggap Paulus dua kali dipenjara—yang pertama berujung pada pengadilan, dan yang kedua (seperti yang terilihat di sini) berujung pada eksekusi mati.—Bill Crowder

Bagian mana dalam hidup kamu yang membutuhkan kekuatan Allah yang dahsyat dan menghangatkan? Bagaimana cara pandangmu berubah ketika kamu memuji Allah?

Allah kami yang perkasa, ketika situasi hidup membuat kami kewalahan, berdirilah bersama kami, gugahlah jiwa kami untuk memuji-Mu, dan berikanlah kekuatan-Mu agar kami menang.