MENDIDIK DIRI SENDIRI

23
May

Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu. (Titus 2:7)

Seorang ayah mengingatkan anaknya untuk segera belajar sementara dirinya asyik menonton televisi. Seorang ibu membatasi anaknya bermain gawai sementara ia tak pernah melepaskan gawai dari tangannya. Seorang atasan mewajibkan bawahannya datang sebelum jam tujuh sementara ia sendiri selalu datang di atas jam delapan.

Mengatur orang lain, mengabaikan diri sendiri. Hal ini mungkin lebih mudah dilakukan karena “gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Orang cenderung suka menilai, mengatur dan menuntut orang lain namun lupa mengatur dirinya sendiri. Memperhatikan orang lain untuk kemudian memberikan penilaian, hingga lupa mengerjakan bagiannya.

Kepada Titus, Paulus berpesan supaya ia menjadikan dirinya teladan dalam kebaikan. Sebagai seorang pengajar, Titus tidak boleh lupa mendidik dirinya sendiri. Ia harus dapat memperlihatkan gambaran hidup tentang kebajikan dan kemurahan hati melalui hidupnya, sebagaimana yang ia harapkan terjadi pada jemaat. Melalui kemurnian dan kehormatan Titus, juga melalui kesederhanaan dan hidupnya yang baik tentu jemaat akan lebih mudah dimenangkan dan menerapkan hal yang sama dalam kehidupan mereka.

Setiap orang percaya adalah saksi-saksi Kristus, sehingga hidupnya pun harus menjadi teladan. Kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menyatakan kemuliaan Allah: menjadi saleh, kudus, bijaksana dan berbudi. Ketika hidup orang percaya mengikuti pola ajaran yang sehat, penyesat tidak dapat menemukan aib yang dapat menjerumuskan jemaat.

KESAKSIAN KITA AKAN KASIH, KEBENARAN DAN KESELAMATAN KRISTUS AKAN DIPERCAYA JIKA KITA HIDUP DI DALAM-NYA